Musim Tenggara Masih Sulit Bagi Nelayan Sukamara untuk Melaut

Last Updated on 12 September 2026 by Adha Susanto

2–4 minutes

Musim kemarau di Kalimantan entah kenapa selalu identik dengan kabut asap tebal yang terus menyelimuti mentari di pagi hari dan nelayan Sukamara juga masih sulit untuk melaut. Padahal yang bakar juga nggak bebas dari asap yang mengepung hidung.

Pergerakan juga jadi terbatas. Enggak bisa keluar pagi-pagi banget untuk pergi ke kebun atau ke kantor.

Makin sering keluar pagi banget saat asap masih menutupi dengan erat sang mentari, tenggorokan dan paru-paru makin engap pula.

Banyak kegiatan pelayanan publik dan anak sekolah harus diundur untuk menghindari asap yang mengepung alat indera penciuman itu.

Di musim yang masih terbilang angin tenggara ini banyak banget yang masih terdampak selain karena asap.

Gelombang laut yang masih terbilang tinggi itu menahan perahu-perahu nelayan untuk terus menepi di tempat tambatannya.

Sedangkan keluarga masih butuh uang untuk bertahan hidup. Beras dan minyak goreng tetap harus ada di rumah.

Hidup harus tetap berlanjut walau musim sedang sulit.

Baca Juga: Kapan Musim Barat dan Timur?

Adaptasi nelayan Sukamara yang masih sulit melaut

Kalau pun nekat, mereka (nelayan) masih bisa melaut di pagi hari banget yang tidak jauh dari bibir pantai. Katanya kalau masih subuh itu gelombang tidak terlalu besar, tapi tidak jauh dari pantai.

Bukan hanya sulit untuk pergi melaut, bahan bakar juga terbilang sulit didapat. Kalau pun ada harganya bisa sampai 400 hingga 500 ribu untuk per galon 20 liter.

Enggak ada yang lain lagi selain bahan bakar mudah didapat dan terjangkau jadi harapan mereka.

Untuk menyambung hidup dan pendapatan keluarga tetap ada, kerja jadi tukang rumah atau ikut di peternakan ayam juga bisa mencukupi.

Selagi badan masih sehat kerja untuk mencarikan nafkah keluarga memang sudah fitrahnya seorang laki-laki sebagai kepala keluarga.

Termasuk kita juga yang harus bisa beradaptasi secepat mungkin di perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tidak hanya itu juga sih. Kemampuan adaptasi kita di lingkungan sosial dengan modal sosial yang kita miliki ternyata juga penting.

Karena ternyata juga tidak mudah untuk bisa akrab dengan masyarakat yang sehari-hari jarang kita jumpai.

Kita bisa jumpai mereka di saat ada kegiatan pelayanan untuk nelayan kecil.

Ada bahasa atau dialek kita yang harus kita sesuaikan dengan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Tidak sedikit juga yang merasa kesulitan karena perbedaan dialek.

Kalau tidak mengerti bilang tidak mengerti akan lebih dihargai oleh mereka. Dengan begitu biasanya mereka akan dengan senang hati pula untuk merinci lebih luas apa yang mereka maksudkan.

Kemudian kemampuan menangkap kita yang cepat dan tepat untuk mengerti apa yang mereka sampaikan akan menemukan jalan yang satu tujuan.

Dari mengenal dialek, kita punya tuntutan untuk bisa mengerti apa yang kita kerjakan dan gunakan saat itu.

Akan sulit bagi kita sendiri kalau sebelumnya tidak pernah atau belum punya pengalaman menggunakan itu. Tiba-tiba kita dihadapkan dengan masyarakat yang butuh bantuan kita.

Adaptasi pelayan publik

Maka, ketahui dulu sebelum bertindak langsung akan jauh lebih mudah dan menyenangkan mereka yang dapat kita bantu.

Pasalnya, kalau kita terlalu lama memahami kasihan mereka jadi harus menunggu lama dan membuatnya bingung.

Seperti sebuah pepatah bijak yang sering kita dengar, “Sedia payung sebelum hujan” yang berarti kita memang harus bersiap bila suatu saat akan ada suatu hal, terlebih jika hal itu sebenarnya sudah bisa kita ketahui.

Dengan manfaatin waktu untuk belajar melalui media digital sekarang akan lebih hemat secara biaya dan tidak membuang waktu di perjalanan punya pengaruh yang besar.

Jika terasa sulit untuk memahaminya sendiri, belajar dengan rekan yang sudah lebih dulu tau juga akan membantu mempermudah pekerjaan kita.

Baca Juga: Resiko Berikut Ini Juga Dialami Oleh Nelayan Sungai dan Danau

Adha Susanto

ASN P3K di Dinas Perikanan Kabupaten Sukamara yang suka ngeluangin waktunya untuk menulis dan membaca

Back to top