Last Updated on 1 September 2025 by Adha Susanto
Estimated reading time: 6 minutes
Bubu ikan, pancing tonda, dan pancing ulur adalah contoh alat tangkap ikan ramah lingkungan yang masig ada hingga sekarang.
Dengan alat tangkap tersebut ekosistem perikanan masih bisa terjaga dengan baik.
Masih terjaganya ekosistem tentu terjaga pula sumberdaya ikan di dalamnya.
Ikan masih bisa mendapat makanannya, masih dapat berlindung dari predatornya, masih bisa kawin untuk menjaga populasinya dan lain sebagainya.
Sedangkan jika lingkungan rusak akibat dari menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan maka sumberdaya ikan jauh lebih sedikit.
Untuk itu pula lah banyak negara-negara yang punya sumberdaya perikanan melimpah seperti Indonesia ikut sebagai anggota pada berbagai lembaga perikanan internasional.
Ini untuk menjawab permasalahan dan tantangan kedepan dalam mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
Salah satunya mengikuti aturan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan berdasar kriterianya.
Baca Juga: Ciri Nelayan Modern: Peralatan, Penangkapan, dan Kehidupan
Daftar Isi
Kriteria alat tangkap ramah lingkungan
Berdasar Code of Conduct for Resposible Fisheries (CCRF) kriteria alat penangkap ramah lingkungan seperti di bawah ini.
Selektivitas yang tinggi
Segala macam teknologi penangkapan ikan/organisme hanya menangkap yang ikan target berdasarkan ukuran dan jenisnya.
Hasil tangkapan sampingan atau non target (by catch) juga rendah
Selama proses penangkapan alat tangkap tidak menangkap ikan atau organisme non target.
Berkualitas tinggi
Ikan dapat sampai ke tangan konsumen dalam keadaan tidak rusak secara fisik dan biologis.
Tidak merusak lingkungan (destruktif)
Kriteria alat tangkap ramah lingkungan selanjutnya adalah selama pengoperasian tidak merusak ekosistem ikan di dasar, kolom dan permukaan perairan.
Mempertahankan keanekaragaman hayati
Penggunaan alat yang tidak ramah lingkungan memberikan dampak buruk terhadap keanekaragaman hayati dan menurunnya produktivitas perairan.
Dampak buruk tersebut akan merugikan perekonomian negara dan nelayan sendiri, karena berkurangnya organisme laut yang bernilai jual.
Tidak menangkap spesies yang dilindungi
Jenis alat yang terkategorikan tidak ramah lingkungan karena dalam pengoperasiannya menyebabkan organisme langka ikut tertangkap. Serta mengancam kelangsungan hidup organisme yang tergolong langka di perairan tersebut.
Contoh spesies langka yang hingga kini keberadaannya terlindungi undang-undang adalah penyu, dugong‐dugong dan lumba‐lumba.
Tidak bahaya ketika dioperasikan
Tidak membahayakan operator atau nelayan saat pengoperasian alat merupakan kriteria dari alat tangkap ramah lingkungan.
Untuk itu dalam mengoperasikan alat tangkap harus memperhatikan klasifikasi dan keahlian nelayan.
Tidak menangkap di daerah yang dilindungi
Adapun hal lainnya yang merupakan kriteria penangkapan rama lingkungan adalah tidak menangkap di daerah yang dilindungi.
Misalnya daerah perairan konservasi atau taman nasional.
diterima secara sosial
Satu dari beberapa kriteria lainnya yang paling menjadi polemik adalah penerimaan alat tangkap di kehidupan sosial masyarakat nelayan.
Penggunaan alat tangkap yang sifatnya merusak atau tidak merusak terdapat faktor sosial yang mempengaruhi keberadaannya.
Alat tangkap ikan yang bertanggung jawab (CCRF) yang dapat diterima secara sosial adalah alat dengan kriteria sebagai berikut:
- Biaya investasi murah;
- Menguntungkan secara ekonomi;
- Tidak bertentangan dengan budaya setempat;
- Tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.
Klasifikasi alat tangkap ramah lingkungan
Ada banyak alat tangkap yang termasuk dalam klasifikasi ramah ekosistem.
Di bawah ini kami merangkum enam contoh alat tangkap yang banyak beroperasi di berbagai daerah.
Pancing ulur
Pada dasarnya alat tangkap ini seperti pancing yang sering kita jumpai untuk mengisi kegiatan di hari libur.
Nelayan yang menggunakan pancing ulur untuk menangkap ikan target beroperasi pada sekitar perairan pantai.
Pancing yang terdiri dari tali dengan panjang tertentu terdapat mata pancing untuk mengaitkan umpan.
Untuk menarik perhatian ikan target nelayan dapat memanfaatkan umpan buatan atau ikan dari ukuran kecil hingga sedang.
Pancing tonda
Salah satu alat tangkap yang juga pancing ini merupakan alat tangkap ramah lingkungan yang terdiri dari tali dengan panjang tertentu dan bercabang-cabang untuk mengaitkan kail.

Untuk mengoperasikannya nelayan akan menarik perlahan menggunakan perahu motornya.
Setiap kail atau mata pancing terdapat umpan buatan atau asli berbentuk ikan dengan berbagai ukuran sesuai bukaan mulut ikan target.
Ikan target akan terkait pada mata pancing saat ikan mengira bahwa umpan yang bergerak itu adalah mangsa alami tanpa kail.
Hasil tangkap nelayan pancing tonda akan berdasarkan jumlah mata pancing yang berada di tali utama.
Jaring insang permukaan
Jenis alat tangkap ini sering beroperasi untuk menangkap kelompok ikan yang melakukan migrasi secara horisontal dan vertikal.
Ikan dengan ukuran lebih besar dari mata jaring akan tersangkut ketika melewati suat kawasan perairan tersebut.
Jaring insang dasar
Salah satu teknologi yang sering di operasikan oleh nelayan untuk menangkap ikan demersal adalah jaring insang dasar.

Menggunakan teknologi alat tangkap ramah lingkungan seperti jaring insang dasar terbilang cukup efektif dengan cara kerja seperti jaring insang permukaan.
Jala tebar
Memiliki desain dan cara pengoperasian yang cukup sederhana jala menjadi alat tangkap nelayan tradisional yang beroperasi pada kedalaman 0,5–10 m.
Agar lebih efektif dalam pengoperasiannya nelayan menentukan kawasan perairan yang terdapat gerombolan ikan.
Bubu ikan
Jauh sebelum kelima alat diatas beroperasi.
Nelayan tradisional sudah mengenal dan memanfaatkan alat tangkap ramah lingkungan yang terbuat dari bambu dengan nama bubu.

Bubu merupakan alat tangkap yang prinsip kerjanya adalah mejebak ikan di kawasan perairan tertentu.
Untuk menarik minat ikan masuk kedalam bubu, di dalam bubu ada makanan yang jadi kesukaan ikan target.
Salah satu contoh umpan yang sering terjumpai dalam bubu di sungai adalah buah sawit yang jadi makanan ikan kelabau.
Perspektif penggunaan alat tangkap ramah lingkungan
Pandangan terhadap keunggulan dan kelemahan penggunaan alat penangkapan ramah lingkungan tidak terlepas dari faktor ekonomi.
Semua orang yang bekerja dengan memanfaatkan sumber daya alam memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan dirinya sendiri.
Masyarakat di sepanjang wilayah pesisir yang umumnya berprofesi sebagai nelayan menggantungkan kebutuhan ekonomi keluarga dari hasil laut.
Pendapatan nelayan terbilang fluktuatif karena terpengaruhi oleh kondisi alam yang mempengaruhi hasil tangkapan.
Alat tangkap ramah lingkungan seperti bubu telah dikenal nelayan sebagai alat yang sangat selektif pada saat musim tertentu contohnya musim rajungan.
Penggunaan bubu pada wilayah perairan tertentu akan mendapatkan hasil rajungan dengan ukuran selektif.
Namun, untuk menghasilkan tangkapan yang sebanding dengan biaya operasional membutuhkan jumlah bubu dan kapal dengan kapasitas lebih besar.
Sedangkan pada saat tidak musim rajungan nelayan bubu tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Berdasarkan pernyataan nelayan. “Bubu musimnya terbatas, hanya bisa beroperasi di bulan tertentu saja, untuk menangkap rajungan. Kalau hanya bubu yang kami gunakan, lalu di luar musim rajungan, kami mau makan apa?”
Penggunaan bubu di luar musim ikan target menjadi kelemahan tersendiri terhadap berbagai jenis alat ramah lingkungan.
Oleh karena itu, banyak alat tangkap ramah lingkungan beroperasi sebagai alat tangkap alternatif.
Jika sedang tidak musim ikan target nelayan mengoperasikan alat tangkap seperti mini trawl (arad).
Hasil tangkapan menggunakan arad jumlahnya lebih besar dan meningkatkan produksi perikanan tangkap daripada bubu.
Walaupun penggunaan alat ini ternilai tidak ramah lingkungan. Tetapi kebutuhan keluarga nelayan harus bisa terpenuhi dengan usaha menangkap ikan menggunakan arad.
Alasan ini tergambar nyata dari pernyataan nelayan yang menyatakan “Sepanjang saya pake arad, kapanpun saya melaut, mesti dapat ikan. Itu pasti. Beda halnya dengan alat tangkap lain. Pokoknya arad jadi andalan nelayan ketika musim surut (ikan)”.
Kesimpulan
Menggunakan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan seperti bubu memberikan keuntungan lebih disaat sedang musim.
Di lain musim, nelayan tradisional tidak menggantungkan hidup pada bubu, karena tidak menghasilkan.
Oleh karena itu, nelayan akan mengoperasikan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Baca Juga: 6 Alat Tangkap Bukan Dari Jenis Jaring

