Last Updated on 10 November 2025 by Adha Susanto
Estimated reading time: 5 minutes
Ikan hiu dan pari adalah dua contoh chondrichthyes atau ikan dengan tulang rawan. Lalu seperti apa ciri ikan bertulang rawan?
Yuk, simak!
Kelompok ikan pada perairan laut tropis seperti Indonesia sangatlah beragam. Keberagaman memberikan manfaat untuk kehidupan manusia.
Baik untuk sumber pangan, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Salah satu kelompok kelas ikan yang jumlahnya juga banyak adalah kelas Chondrichthyes.
Chondrichthyes adalah kelas ikan bertulang rawan dengan reproduksi secara internal.
Baca Juga: Ciri Ikan Bertulang Sejati (Osteichthyes)
Daftar Isi
Ciri ikan chondrichthyes
Sebelum mengulas contoh ikan yang termasuk kelas chondrichthyes, berikut ini kita lebih dulu mengenal ciri ikan yang termasuk di dalamnya.
Dari asal muasal katanya, ikan bertulang rawan dengan kelas Chondrichthyes berasal dari berasal dari bahasa Yunani.
Chondr yang berarti tulang rawan dan ichthys berarti ikan.
Jadi, Chondrichthyes adalah ikan dengan rangka bertulang rawan.
Kelas ikan bertulang rawan ini punya rahang dan sirip-sirip berpasangan. Mempunyai sisik, lubang hidung berpasangan, dan jantung terdiri atas dua bilik.
Chondrichthyes adalah ikan dengan ciri tidak memiliki tulang rusuk dan sumsum tulang belakang.
Sel darah merahnya dihasilkan dari ginjal, organ epigonal dan organ leydig. Sedangkan sel darah putihnya diproduksi dari limpa dan katup spiral.
Tubuh ikan tertutupi oleh sisik plakoid (dermal denticle). Fungsi sisiknya sebagai pelindung tubuh dan mempermudah pergerakannya.
Untuk memudahkan pergerakan, kelompok ikan bertulang rawan (Chondrichthyes) mempunyai alat gerak berupa sirip ekor lebih besar di bagian lembaran atas daripada bagian bawah.
Pernapasan ikan kelas Chondrichthyes menggunakan celah insang.
Namun, ikan pada habitat perairan demersal memiliki spirakel, lubang kecil yang terdapat di belakang setiap mata.
Sedangkan fungsi spirakel untuk membantu sistem respirasi ikan. Di mana air dengan kandungan oksigen terlarut akan melewati lubang tersebut dan akan keluar melalui insang.
Terdiri dari dari dua kelas, ikan dari kelompok Chondrichthyes memiliki cirinya masing-masing.
Ikan yang termasuk kelas ini juga terbagi lagi dalam dua subkelas, yakni elasmobranchi dan holocephali.
Baca Juga: Alat Pernapasan Ikan Lengkap dengan Bagian Insang
Contoh ikan Chondrichthyes dari subkelas elasmobranchi

Contoh ikan chondrichthyes dari subkelas elasmobranchi adalah sebagai berikut:
- cucut lanjaman (Carcarhinus dussumieri),
- hiu sirip hitam (C. melanopterus),
- hiu bongol (Chiloscyllium indicum),
- C. punctatum (hiu batu),
- Aetobatus narinari (pari burung elang),
- Himantura undulata (pari macan)
Adapun ciri Chondrichthyes pada subkelas elasmobranchi sebagai berikut:
- tidak memiliki gelembung renang;
- sirip punggungnya kaku dan tubuhnya tertutupi oleh sisik plakoid yang kecil-kecil;
- kulitnya kasar seperti amplas atau kertas gosok yang disebut shagreen;
- terdiri dari 5–7 pasang celah insang pada ikan cucut;
- sedangkan ikan pari memiliki 5–6 pasang pada sisi dorsal;
- memiliki sirip perut yang bisa berkembang menjadi klasper sebagai penyaluran sperma.

Baca Juga: Reproduksi Ikan: Sistem, Organ dan Fungsi Lengkap
Holocephali
Subkelas kedua dari kelompok ikan bertulang rawan atau chondrichthyes adalah holocephali.
Ikan Chimaera adalah contoh ikan chondrichthyes dari subkelas holocephali. Habitat dari ikan ini berada di dasar perairan ugahari dengan kedalaman mencapai 2.600 m.
Ciri tubuh ikan Chimaera mirip dengan tubuh ikan pada kelas Chondrichthyes pada umumnya.
Selain itu, mereka memiliki sistem duri (spina) beracun yang terletak di depan sirip punggungnya.

Untuk melindungi tubuhnya pada dasar perairan, ikan chimaera memiliki sisik plakoid dan bernapas menggunakan sepasang insang.
Insangnya tertutupi oleh tutup insang seperti pada ikan bertulang sejati (operculum).
Pada sistem fertilisasinya, ikan chimaera memiliki klasper untuk melakukan fertilisasi secara internal. Telur ikan chimaera akan terlindungi pada sebuah kapsul telur.
Baca Juga: Jenis Makanan Ikan: Karnivora, Herbivora, Omnivora
Reproduksi ikan chondrichthyes
Ciri dari reproduksi ikan kelas chondrichthyes adalah bersifat internal.
Selain perkembangan embrio yang bersifat ovipar, juga dapat di temukan tipe lesitotrof dan matrotrof tetapi sangatlah jarang.
Pada tipe ovipar saat telur melewati saluran telur (oviduct), telur akan di bungkus oleh sebuah kapsul. Kapsul berfungsi untuk melindunginya hingga menetas. Sumber nutrisi embrionya berasal dari kuning telur.
Tipe lesitotrof pada kelas ikan chondrichthyes memiliki ciri berupa kapsul telur dari sebuah selaput tipis.
Dalam satu kapsul terkadang terisi lebih dari satu telur. Embrio yang berkembang pada uterus induknya akan mengkonsumsi kuning telur dan cairan nutrisi dari ekskresi uterus induknya.
Pada beberapa spesies, embrio akan bersifat kanibal saat sumber nutrisi mulai habis.
Sedangkan pada tipe matrotrof embrio akan menerima semua sumber nutrisi dari indukannya melalui salah satu dari cara berikut ini:
- Nutrisi yang berasal dari jaringan induk berpindah langsung ke jaringan embrio. Karena kedua jaringan ini berhubungan
- Jaringan uterus menyekresikan susu uterine yang diabsorpsi oleh embrio
Contoh ciri ikan dari kelas chondrichthyes lainnya adalah waktu kehamilan.
Ikan dari kelas Chondrichthyes memiliki waktu kehamilan yang bervariasi, tergantung pada individu dalam setiap spesies ikan.
Misalnya ikan pari. Ikan pari hamil dengan waktu perkembangan embrionya mencapai kisaran dua bulan.
Sedangkan ikan cucut selama 18 sampai 24 bulan. Perkembangan embrionya pun sangat tergantung pada suhu perairan sekitarnya. Karena kedua ikan ini termasuk dalam hewan ektoterm.
Demikianlah uraian singkat ciri kelompok ikan bertulang rawan (chondrichthyes) yang terdiri dari dua subkelas.
Anda masih mencari informasi tentang jenis ikan dan perilakunya?
Pada blog ini, Anda bisa menemukannya dengan mudah. Karenanya, ayo simak artikel lainnya di blog ini!
Baca Juga: Sistem Reproduksi Ikan: Sistem, Organ, dan Fungsi
Referensi:
- Omar, S.B.A. 2016. Dunia Ikan. Gadjah Mada Universitu Press: Yogyakarta.
