Last Updated on 20 October 2026 by Adha Susanto
Skripsi merupakan salah momok berat bagi mahasiswa tingkat akhir. Walau memang tidak semua mahasiswa setuju terhadap hal demikian. Skripsi terasa susahnya bagi mereka yang memang berpikir berlebih dari apa yang harus dikerjakan dalam skripsi. Sehingga yang membuat skripsi susah itu dari dalam pikiran kita sendiri.
Minggu lalu sempet mendampingi mahasiswa akhir dari Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan dari top PTN yang ada di Kalimantan Barat.
Selama tiga hari itu terasa kembali seperti mahasiswa tingkat akhir yang lagi ngerjain skripsi.
Jauh sebelumnya, yakni pas masih menjadi mahasiswa, nemenin temen yang lagi skripsian itu bikin ikatan batin terasa lebih kuat.
Batin yang sama-sama lagi susah dan ruwet dengan isi kepalanya data apa yang harus dikumpulkan, metodenya bener apa nggak, hasilnya bakal sesuai atau nggak.
Keruwetan makin parah kalau dosbing susah banget ditemuin karena jadwalnya sibuk. Belum lagi kalau ketemu kadang nggak dapat solusi langsung di depan mata. Tapi harus cari sendiri juga.
Sadar aja sih, skripsi juga bagian dari pembelajaran, jadi, kalau mau menerima apa yang menjadi susahnya skripsi gak bakal kebentuk kepribadian dan cara berpikir.
Nah, kalau udah ngurusin temen atau bantuin temen yang ambil data ke lapangan itu sudah bagian dari piknik untuk lupain sejenak draft skripsi.
Lumayan untuk ngelepasin ruwetnya pikiran dengan naik perahu ke pantai dan ambil sampel dasar perairan, kerang, dan air laut.
Waktu itu seru banget.
Balik ke kos dan laboratorium, waktunya kepala kena iket oleh tali tambang kapal yang gede.
Singkat cerita, satu bulan lebih di laboratorium untuk jagain bakteri di tengah malam dan dini hari itu juga selesai.
Akhirnya bisa sidang dan wisuda online.
Baca Juga: Kenapa Kita Harus Hidup Minimalis? Berikut Alasannya
Apa yang membuat skripsi itu jadi susah?
Pertarungan diri sendiri merupakan pertarungan yang hebat. Semuanya ada dalam cara kita berpikir dan bertindak.
Jika tak kuat dan ngandelin ego untuk lepas sejenak dan sejenak terus dari ngerjain skripsi, itulah yang membuat mahasiswa jadi kebablasan menikmati rehat sejenak dari skripsinya.
Walau emang boleh dan sah-sah saja untuk menjaga kewarasan, tapi kalau sudah waras sedikit kembali mengencangkan sabuk pengaman dan injak gasnya dalem-dalem juga lebih baik.
Lebih cepet sampai dan lega gitu rasanya.
Hingga akhirnya terasa, kalau skripsi itu sebenarnya tidak susah.
Kita saja yang terlalu berpikir berlebih dengan semuanya. Berpikir tidak mampu untuk menyelesaikannya, padahal belum gerak sama sekali tuh.

Akhirnya apa-apa saja yang membuat susahnya skripsi itu makin keluar dari kepala.
Dari perjalanan tiga hari menyusuri sungai memang tidak ada beban yang terlihat. Semuanya bisa berjalan dengan lancar seperti arus Sungai Jelai yang mengalir ke muara.
Air sungai yang asin di musim kemarau tanpa ada hujan tidak membuatnya pusing kelak nanti akan dipertanyakan di sidang skripsi.
Sebab masih pada tujuannya awal penting dikerjain dulu tanpa harus bertanya berlebih di masa depan yang belum pasti itu.
Dan yang membuat kembali ingatan mahasiswa masa lalu itu adalah caranya menangani semuanya.
Bayangin nih, semester akhir tapi belum tahu cara gunain alat kualitas air, tapi tidak usah pusing akan hal itu. Sebab akan ada orang yang akan membantunya.
Sepakat sekali apa yang ada di dalam pikirannya. Skripsi adalah tempat belajar.
Sebab memang harus dibikin enjoy saja untuk ngerjain skripsi yang semua data dasarnya dari lapangan.
Atau bisa juga dikatakan nurunin idealisme untuk membuat skripsi yang sebagus mungkin. Sebab itu akan jadi menyusahkan diri sendiri.
Semuanya dijalanin dengan mengalir, bahkan bisa diatasin kalau tujuan utamanya tidak tercapai maka ia sudah lakukan sesuatu. Meskin demikian, cara ini sangat tidak sopan dalam sebuah metode ilmiah.
Skripsi juga bisa gambarin karakter seseorang
Belajar dari apa yang membuat skripsi itu jadi susah (bukan dari pemikiran aja) sangat membentuk karakter kedepannya.
Keberanian dan kekuatan tekat selama ngejalanin skripsi membantu banget untuk kehidupan masa depan.
Seseorang bisa berpikir secara terstruktur dan sistematis bukan hal yang baru lagi.
Sampai di titiknya yang sekarang karena dari cara berpikir. Berpikir untuk gimana bisa adaptasi dan mampu sampai pada keinginan yang ada di depan.
Cara komunikasi dengan seseorang yang membantu dan kemudian dapat relasi darinya merupakan bonus dari ngerjain skripsi.
Tidak gampang nyerah karena tidak bisa dapetin data untuk dukung hasil pengukuran secara primer ngelatih seseorang untuk punya jiwa petarung yang hebat.
Jadi suka terhadap hal-hal yang memang tidak disukain sama orang banyak juga jadi bonus dari membahas faktor-faktor yang menjadi penyebab hasil itu nampak di skripsi.
Pada akhirnya, skripsi tidak ada susahnya selama kita mampu untuk terus berjuang dengan banyak cara.
Banyakin membaca jurnal, banyakin relasi di kampus, mau tanya kepada orang yang pernah hal serupa, dan mau buka tutorial yang sudah ada di internet bahkan kecerdasan buatan.
Data-data yang kurang bisa dilengkapi dengan data sekunder yang banyak tersedia di website-website pengelola data.
Pokoknya manfaatin website yang nyediain data pendukung tersebut seperti Badan Pusat Statistik, Satu Data KKP, Marine Copernicus dan lain-lain.
Untuk bisa berpikir sampai situ memang harus banyak bacain jurna-jurnal yang selaras sama topik skripsi.
Baca Juga: Review Kuliah di Kelautan Undip

