Resiko Berikut Ini Juga Dialami Oleh Nelayan Sungai dan Danau

Last Updated on 21 August 2026 by Adha Susanto

3–4 minutes

Kalau berbicara tentang apa saja resiko nelayan kecil, semua daerah sepertinya sama saja. Terlebih, daerah-daerah yang memang jauh dari kota atau ibukota daerah, ketersediaan dan harga bahan bakar jadi kendala.

Kurang lebih sejak musim kemarau tahun ini, bahan bakar di daerah terasa semakin sulit untuk didapat.

Kalau pun ada, rakyat harus antri hingga berjam-jam hingga antrian pun mengular di sepanjang jalan menuju SPBU.

Bahkan seperti tidak ada gunanya stasiun bahan bakar yang ada. Pasalnya, lebih sering tutup karena kehabisan stok, dan masih menunggu pengiriman selanjutnya.

Entah sampai kapan masyarakat harus mengalami penderitaan seperti ini. Berapa banyak uang, waktu, dan tenaga yang harus mereka sisihkan untuk bisa kebagian bahan bakar dengan harga subsidi atau terjangkau.

Belum lagi ada pihak-pihak yang mengambil kesempatan pada masa-masa seperti ini. Sudah lumrah atau sering terjadi dalam sebuah ekosistem ekonomi.

Bagi mereka yang mau meluangkan waktu lebih atau memang sudah menjadi mata pencahariannya, momen seperti ini merupakan kesempatan besar.

Dibeli dengan harga subsidi, kemudian dijual dengan harga tertentu untuk dapat margin mengganti lelah dan waktu yang telah diinvestasikan.

Antrian makin mengular, rakyat dengan mata pencaharian seperti nelayan juga makin terhimpit dan sudah merupakan salah satu resiko sebagai salah satu pengguna bahan bakar subsidi.

Pasalnya, itulah yang dapat dilakukan oleh nelayan. Menekan sekecil mungkin nilai produksi seperti membeli bahan bakar subsidi untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya.

Baca Juga: Berikut Bedanya Nelayan Tradisional dan Modern

Langkah nyata apa untuk mengurangi resiko pekerjaan sebagai nelayan?

Persoalan sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk pergi mencari ikan kini masih dialami nelayan-nelayan yang aktivitasnya penangkapannya di sungai dan danau, Sukamara.

Sebelumnya pasokan bahan bakar memang masih mudah untuk didapatkan, baik di pengecer atau stasiun pengisan bahan bakar langsung.

Kini mereka harus mampu menahan panas, berdesakan, kuat secara fisik, dan juga emosi. Bahan bakar merupakan faktor utama produksi nelayan untuk mencapai wilayah penangkapan, walau bahan bakar memang tidak signifikan mempengaruhi hasil tangkapan.

nelayan sukamara sulit untuk mendapat bahan bakar
Nelayan Sukamara Sulit untuk Mendapat Bahan Bakar

Tetapi dengan bahan bakar setidaknya peluang untuk pulang membawa hasil meski tidak bisa menutup faktor produksi masih menjadi harapan.

Bukan hanya harapan nelayan, tapi harapan kita semua agar ketersediaan bahan bakar di Sukamara ini bisa kembali normal seperti sedia kala.

Aktivitas untuk mencari nafkah pun bisa lebih menggeliat, karena ada harapan untuk mewujudkan doa-doa agar hidup lebih berkecukupan.

Cukup untuk pendidikan anak-anak, cukup untuk menyalakan api di dapur, dan cukup untuk menginvestasikan sebagian kecil pendapatan untuk masa depan lebih baik lagi.

Semua pekerjaan memang punya resiko, termasuk memilih menjadi seorang nelayan.

Hasil tangkapan yang tidak menentu, faktor produksi yang tiba-tiba naik tajam, dan cuaca yang kadang tidak mendukung.

Tapi, apalah itu semua, ada keluarga yang menanti di rumah untuk sesuap nasi dan lauk yang bergizi.

Tidak ada harapan lain selain mendapatkan bahan bakar yang mudah didapat dengan harga terjangkau.

Kita semua ingin melakukan yang terbaik agar bisa membantu sesama yang juga mencari kehidupan lebih baik dan layak.

Jika tergolong mampu, menggunakan bahan bakar non subsidi setidaknya telah memberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Tidak harus besar, asal kita mampu berbuat kecil yang begitu bermanfaat bagi orang lain, maka coba lakukan dari sekarang.

Kita bisa saling menjaga untuk kehidupan yang damai di bumi yang sama-sama kita pijak ini.

Setidaknya resiko yang dialami oleh nelayan-nelayan kecil di Sukamara bisa lebih kecil dari yang sebelumnya.

Apa yang dilakukan selanjutnya?

Demikian juga sebaliknya, kepercayaan yang telah diberikan jangan pernah untuk dikhianati. Gunakan sebaik mungkin apa yang telah dititipkan kepada kita.

Kejujuran dari kita semua untuk saling membantu merupakan nilai sosial yang sangat berharga.

Tidak ada kehidupan yang tenang bagi seorang pembohong. Semuanya hanya persoalan waktu kapan itu akan muncul ke permukaan.

Jika sudah kecium, menguaplah semua yang telah kita peroleh selama ini.

Hasil dengan tumpahan keringat jauh lebih bearti dari ucapan manis yang keluar dari mulut namun busuk di dalam hati.

Kalau sudah terbongkar siapa yang akan mempercayai di kemudian hari?

Baca Juga: Istri Nelayan: Peran dan Tanggungjawabnya

Adha Susanto

ASN P3K di Dinas Perikanan Kabupaten Sukamara yang suka ngeluangin waktunya untuk menulis dan membaca

Back to top