Last Updated on 13 January 2026 by Adha Susanto
Mungkin sudah pernah dengar trawl, pukat harimau, dan cantrang di media massa. Tiga alat tangkap tersebut merupakan contoh alat tangkap aktif yang kini telah dilarang penggunaannya.
Selain alat tangkap yang harus dioperasikan dengan cara bergerak seperti ditarik oleh kapal, juga ada alat tangkap yang diam aja.
Bubu dan jaring insang tetap adalah contoh alat tangkap ikan dengan sifat pasif atau diam di tempat saja.
Penggunaan alat tangkap kelompok satu ini boleh dikatakan sangat banyak digunakan oleh nelayan.
Hampir di seluruh wilayah penangkapan ikan yang ada pasti menggunakan alat tangkap ini.
Mengapa demikian?
Simak alasan dan contoh alat tangkap yang termasuk di bawah ini!
Baca Juga: 10 Alat Tangkap Ikan Jaring Nelayan
Daftar Isi
Kenapa alat tangkap aktif?
Ada sejumlah alasan kenapa alat tangkap yang mayoritas berupa jaring ini banyak beroperasi, di antaranya seperti di bawah ini.
Efisien
Biasanya banyak dalam bentuk jaring dengan ukuran mata yang berbeda-beda. Mulai dari kecil hingga besar.
Ikan yang masuk dalam jaring juga bermacam-macam jenis dan ukuran. Pasalnya, jaring menjadi tempat yang membuat ikan nyangkut saat lewat.
Belum lagi ukuran alat tangkap yang besar, panjang, dan kuat. Sehingga alat tangkap satu ini lebih banyak beroperasi menggunakan tenaga berupa mesin.
Ada juga yang masih menggunakan tenaga manusia seperti jaring tarik pantai.
Jadi, ukuran, biaya operasional, hingga hasil terbilang lebih efisien.
Terkontrol
Penggunaan alat tangkap aktif juga lebih mudah pengontrolannya.

Nah, kalau bubu atau alat tangkap pasif yang beroperasi di dasar perairan dengan ditinggalkan dan bisa saja hilang terseret arus.
Atau bisa juga berubah tempat karena gangguan alat tangkap yang diseret atau ditarik oleh kapal.
Penggunaan alat tangkap berupa jaring lebih terkontrol sebab alat tangkap selalu dirapikan dan dirawat kembali di atas kapal atau saat menepi di darat.
Mudah didapat
Hampir ada di seluruh daerah, alat tangkap aktif lebih mudah untuk dijumpai.
Pasalnya, nelayan juga banyak menggunakan alat tangkap satu ini untuk melaut atau di sungai.
Kalau ada kerusakan kecil juga lebih muudah untuk diperbaiki karena bahannya ada dan sudah jadi alat tangkap turun temurun.
Demikian pula untuk mengganti alat yang sudah tidak bisa untuk beroperasi lagi.
Baca Juga: 8 Alat Penangkap Ikan Tradisional
Contoh alat tangkap aktif
Ada lebih dari 10 contoh alat tangkap aktif jika kita mengacu pada berbagai alat tangkap yang ada di Indonesia.
Untuk contoh-contoh alat tangkap di bawah ini dipilih karena sering kita jumpai di berbagai daerah.
Jaring insang hanyut
Hampir bisa kita temukan di sepanjang pantai Indonesia, alat tangkap satu ini merupakan alat yang bergerak mengikuti arus.

Pasalnya, dalam pengoperasiannya sangat memperhatikan angin yang menggerakkan arus air laut.
Nelayan-nelayan tradisional yang beroperasi one day fishing menggunakan jaring insang hanyut untuk menangkap ikan-ikan pelagis.
Pemasangan jaring insang hanyut juga memperhatikan karakteristik arus laut ini membutuhkan keterampilan dan pengalaman.
Jika tidak, maka ikan tidak bisa tersangkut jaring. Pasalnya, ikan-ikan lebih suka berenang melawan arus laut.
Oleh karena itu, alat tangkap aktif satu ini berada di kolom perairan dengan posisi memotong arus dengan sudut kemiringan 45 hingga 90 derajat. Dan membentuk setengah lingkaran.
Pukat tarik pantai
Teknik penangkapan ikan dengan alat tangkap satu ini terbilang sudah sangat tua.
Tidak semua pantai cocok untuk menjadi wilayah operasi penangkapan ikan dengan alat satu ini. Pasalnya, pukat yang beroperasi dengan cara ditarik oleh beberapa orang ke arah pantai ini haruslah rata.
Tidak ada terumbu karang dan benda penghalang lainnya yang menahan atau mengganggu jalannya pukat.
Sebelum ditarik ke arah pantai, pukat satu ini tetap harus terpasang menggunakan bantuan kapal.
Kapal digunakan untuk melihat gerombolan ikan di pantai dan memasangnya menjadi bentuk setengah lingkaran melingkari gerombolan.
Panjang pukat tarik di antara antara 50 hingga 300 meter itu ditarik ke arah pantai oleh beberapa orang.
Ikan-ikannya adalah ikan pantai dengan berbagai jenis dan ukuran berbeda.

Jaringnya bisa kuat untuk menarik ikan ke pantai karena berbahan polypropylene (PP), sedangkan talinya berbahan polyethylene (PE).
Jala tebar
Ada alat tangkap aktif lainnya yang boleh terbilang sudah lama digunakan oleh nelayan.
Nelayan tradisional di sungai dan danau banyak menggunakan alat tangkap satu ini untuk mengisi waktu. Karenanya alat tangkap ini juga dipakai sebagai alat tangkap sampingan.

Alat tangkap utamanya masih berupa jaring insang tetap yang terpasang melintang di sungai.
Pukat hela
Contoh alat tangkap satu ini merupakan alat tangkap yang terdiri dari jaring berkantong. Jenisnya ada banyak sekali jika dibedakan berdasar pembuka jaringnya.
Umumnya, nelayan menggunakan alat tangkap satu ini untuk menangkap udang dan juga ikan demersal lainnya.
Pengoperasiannya sendiri juga dengan cara dihela menggunakan kapal. Ada yang dari samping dan juga ada yang dari belakang.
Di nelayan-nelayan daerah, pukat hela juga lebih sering dikenal dengan arad atau mini trawl.
Ada hingga sekarang, karena alat tangkap ini lebih disukai dan hasilnya lebih memuaskan.
Pukat cincin
Alat dengan konsktruksi dan cara pengoperasian yang cocok untuk menangkap ikan pelagis bergerombol.
Sejak 1859, alat tangkap ini sudah dipatenkan. Bahkan menurut data statistik perikanan Jepang tahun 1962, penggunaan alat tangkap pukat cincin mendominasi 15,1%.
Baca Juga: 5+ Alat Tangkap Ramah Lingkungan
Penggaruk
Alat tangkap aktif lainnya yang masih beroperasi di perairan pantai untuk menangkap udang ialah penggaruk.
Sebagai alat yang handal untuk menangkap ikan-ikan demersal seperti udang, penggaruk juga terus mengalami modifikasi agar lebih efisien.
Penggunaan alat tangkap ini cukup sederhana, hanya dengan diseret oleh kapal, penggaruk akan mengaduk permukaan substrat dasar perairan.
Dengan terganggunya dasar perairan, udang akan melompat-lompat dan masuk ke dalam kantong penggaruk.
Dogol
Perairan Laut Jawa boleh dikatakan wilayah penangkapan yang sibuk. Mulai dari penangkapan oleh nelayan tradisional hingga modern.
Penggunaan alat tangkap dogol juga masih aktif. Nelayan tradisional di Jepara misalnya, mereka masih menggunakannya untuk menangkap berbagai jenis ikan
Layur, petek, cumi-cumi, dan teri nasi adalah hasil tangkapan menggunakan dogol.
Jala jatuh berkapal
Jika menemukan cumi-cumi segar di pasar, berarti itu adalah salah satu hasil tangkapan dari alat tangkap aktif jatuh berkapal.
Salah satu alat tangkap yang masih banyak beroperasi di perairan Indonesia. Ini juga bukan tanpa alasan.
Jumlah permintaan cumi-cumi segar di pasar yang kian bertambah juga menjadi pendorong banyaknya kapal cumi beroperasi.
Pukat dorong
Bisa beroperasi dengan menggunakan kapal atau manual dengan tenaga manusia, pukat dorong adalah alat tangkap tradisional yang menguntungkan.
Mengapa menguntungkan dan juga layak?
Di Kota Semarang, khususnya nelayan Tambak Lorok, satu tahun bisa memperoleh pendapatan sebesar Rp177.264.000.
Dalam satu tahun, keuntungan nelayan pukat dorong mencapai Rp68.780.667, demikian yang kami kutip dari Journal of Maquares.
Payang
Masih termasuk jenis alat tangkap pukat tarik, payang adalah alah alat tangkap yang beroperasi di permukaan perairan.
Untuk mengoperasikannya tidak jauh berbeda dari alat tangkap trawl. Pasalnya, alat tangkap satu ini merupakan modifikasi darinya.
Dengan melingkari gerombolan ikan pelagis, jaring kemudian ditarik ke atas kapal secepat mungkin.
Untuk hasil tangkapannya berupa ikan-ikan pelagis seperti tongkol, kembung, dan ikan teri.
Itulah 10 contoh alat tangkap aktif yang digunakan oleh nelayan-nelayan di Indonesia.
Baca Juga: Alat Tangkap Bukan Jaring: Yuk, Kenali 6 Di Antaranya!
Sumber Gambar Unggulan : Unsplash

