Sejarah Singkat Kapal Pinisi Indonesia

Last Updated on 29 August 2021 by Adha Susanto

Kapal pinisi adalah kapal yang sangat terkemuka di dunia karena keperkasaan dan keunikannya. Maka tidaklah heran kapal pinisi memiliki sejarah yang memukau dengan waktu yang tidak singkat. Nilai kebudayaan dan mitologi dalam pembuatan kapal sangatlah khas bagi masyarakat suku Bugis-Makassar. Dimana dua buah tiang dan tujuh layar kapal menyampaikan sebuah filosofi terhadap puncak pembuatan dan keperkasaan kapal pinisi mengarungi tujuh samudera.

Mitologi Sawerigading

Diperkirakan kapal pinisi ada sebelum tahun 1500-an. Keberadaan kapal pinisi berkaitan erat terhadap sejarah singkat tentang mitologi Sawerigading. Bahwa menurut naskah “Lontarak, I Babad La Lagaligo” tercatat pada abad ke-14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading.

Sawerigading adalah seorang putra Raja Luwu. Sawerigading ternyata jatuh cinta pada saudara kembarnya We Tenri Abeng. Hubungannya sangatlah ditentang.

Kemudian Sawerigading pun di sarankan untuk menikah dengan sepupunya. Yakni We Cudai Dg. Risompa. Sepupunya ini adalah Putri Raja Cina-Wajo. Paras We Cudai ternyata tidak kalah cantik dengan Tenri Abeng. Sawerigading kemudian menyetujui saran yang telah diberikan. 

Suatu hari ketika Sawerigading pulang ke negerinya setelah menikahi We Cudai. Ternyata dalam perjalanan kapalnya di timpa badai. Perahu pun pecah berkeping-keping. Kepingan perahu terdampar ke beberapa tempat. Badan kapal terdampar di Ara. Bagian sotting terdampar di Tanah Lemo. Layar kapal dan tali-temali terdampar di Bira.  

Mitologi inilah yang menjadi dasar keahlian masyarakat di ketiga desa tersebut yakni Ara dan Tanah Lemo mahir pembuatan kapal. Sedangkan desa Bira mahir dalam berlayar.

Sumber lainnya tentang sejarah singkat pembuatan kapal pinisi

Sumber lain sebagai sejarah singkat pembuatan kapal pinisi juga berkembang. Dimana pembuatan kapal pertama kali di lakukan oleh ‘’beach-comber’’ berkebangsaan Perancis atau Jerman di Trengganu, Malaysia. Kemudian menikahi seorang gadis setempat dan tinggalah menetap. Pada suatu hari sang Raja Sultan Baginda Omar meminta bantuannya untuk membuatkan sebuah kapal. Kapalnya menyerupai kapal modern dari negara bagian Barat.

Kapal pun terealisasi pada tahun 1846. Dan sesuai dengan tradisi Malaysia kapal menjadi prototipe kapal baru dengan sebutan Pinas. Yang mana nama kapal itu kemungkinan mengikuti kata pinasse. Kata pinasse di Perancis dan Jerman adalah sebuah kapal dengan ukuran yang sedang. Meskipun demikian kapal ini yang kemudian menjadi sebuah prototipe kapal Pinisi.

Filosofi kapal pinisi

Bagi suku Bugis-Makassar kapal pinisi memiliki sebuah filosofi kehidupan. Yang mana kapal tidak hanya sebagai moda transportasi saja. Melainkan sebagai lambang keperkasaan dan pengetahuan lokal. Keberadaan dua buah tiang dan tujuh layar adalah puncak dari proses pembuatan yang anggun dan perkasa dalam mengarungi samudera.

filosofi pembuatan kapal pinisi
Filosofi kapal Pinisi Nusantara

Pendapat para ahli tentang sejarah penamaan kapal pinisi

Dari asal katanya dan sejarah penamaan kapal pinisi sendiri tidak ada keterangan yang pasti. Dalam hal penamaan berikut ini terdapat pendapat yang telah terangkum secara singkat.

  1. Edward Poelinggomang berpendapat nama Pinisi adalah dari jenis kapal layar Inggris yang disebut Phinis. Jenis kapal layar yang termaksud adalah kapal dengan ukuran kecil dan terdapat motor penggerak berukuran kecil. Pelaut Belanda menyebut jenis kapal ini adalah Pinas. Sedangkan pelaut Prancis menyebutnya dengan Phinasche. Masyarakat Sulawesi Selatan yang tidak mengenal konsonan maka menyebutnya dengan Pinisi. Pada tahun 1869 lah kata Pinisi mulai disebut dalam dunia perdagangan maritim.
  2. Basri Padulungi tahun 1973 mengenal nama Pinisi berasal dari kata Venecia. Nama dari sebuah pelabuhan di Italia di duga berasal dari kata Vinecia. Kemudian berubah penamaan berdasarkan dialek Konjo menjadi ‘’Penisi’’. Yang selanjutnya mengalami proses fenomik menjadi Pinisi. Ada kemungkinan masyarakat Bugis-Makassar mengambil penamaan Pinisi pada kebiasaan hidup. Yakni mengabadikan sebuah nama tempat terkenal atau istimewa termasuk perahunya.
  3. Berdasarkan bahasa Bugis kata Panisi artinya sisip. Mappanisi artinya menyisip. Menyisip adalah menyumbat semua batasan dinding, papan, dan lantai sebuah perahu dengan sebuah benda. Agar air tidak merembes masuk kedalamnya. Pendugaan ini berdasarkan pernyataan orang Bugis yang pertama menggunakan perahu Pinisi. Lopi di Panisi (Bugis) yang artinya perahu disisip. Kemungkinan dari kata Panisi ini mengalami sebuah proses fenomik menjadi Pinisi.

Catatan sejarah singkat perkembangan kapal-kapal sebelum pinisi di Sulawesi Selatan

Teknologi canggih yang sekarang kita nikmati ini tidaklah semerta-merta langsung di temukan. Melainkan melalui suatu rangkaian proses yang panjang. Serangkaian proses yang panjang tersebut menjadi sebuah sejarah perkembangan teknologi yang tidaklah singkat. Begitu pulalah yang terjadi pada perkembangan teknologi transportasi laut di Sulawesi Selatan.

Berikut serangkaian perkembangan sejarah singkat kapal-kapal sebelum Pinisi ada

Sampan

Orang Makassar dan Mandar menyebut sampan sebagai perahu lepa-lepa. Umumnya perahu ini di buat dari batang kayu besar yang dikeruk. Dan di peruntukkan untuk mancing. Pada kapal pinisi perahu jenis ini sebagai sekoci.

Soppe

Perahu jenis ini mirip sampan. Hanya saja kapasitasnya lebih besar. Pada bagian kiri dan kanan diberi cadik untuk menjaga keseimbangan. Serta terdapat layar berbentuk segi tiga untuk berlayar.

Jarangka

Jenis perahu ini lebih besar dari soppe. Kapasitas perahu mencapai tiga ton. Layarnya terdiri dua jenis yaitu sombala dan lambo.

Sandeq’

Secara umum bentuknya mirip soppe, tetapi lambungnya agak ramping. Layarnya berbentuk segi tiga dan perahu merupakan khas Mandar.

Pa’dewakang

Terdapat dugaan terhadap perahu pa’dewakang adalah sebuah perahu kuno. Yang pertama tercipta memakai lunas dan dindingnya terdiri dari dari kepingan-kepingan papan. Bentuk kapal jenis ini mirip dengan perahu pajalla. Dan layarnya berbentuk segi empat serta bagian depan terdapat layar kecil berbentuk segi tiga. Daya angkut perahu ini mencapai 10 ton.

Lambo’

Bentuk perahu ini mirip sekoci kapal. Sehingga muncul dugaan nama perahu ini berasal dari “Large Boat”. Buritnya yang bulat dan disebut “Panta” (pantat) sedangkan haluannya lurus dan condong kedepan. Daya angkutnya mencapai 15-16 ton. Dan sebagai perahu khas Mandar dan Buton.

Pajalla dan Patorani

Patorani dan pajalla adalah dua perahu yang tidak ada perbedaan dari segi bentuknya. Hanya saja berbeda ukurannya. Dimana kapasitas patorani sedikit lebih besar dari pajalla. Dan masyarakat Makassar-Bugis menggunakannya untuk melaut mencari ikan.

Salompong

Sejarah singkat penamaan jenis perahu ini berasal dari penambahan kapasitas perahu. Penambahan kapasitasnya dilakukan dengan menambahkan papan lamma beberapa susun. Papan lamma ditambahkan kebelakang sebagai buritan perahu. Sedangkan pada bagian depan, penambahan papan tidak langsung ke bagian sotting. Oleh karena itulah terdapat sebuah undakan. Undakannya disebut “Salompong Tanja”.

Palari

Modifikasi dari perahu salompong adalah perahu palari. Bagain yang termodifikasi adalah undakan bagian depan yang dirubah dan diratakan. Sehingga dengan adanya perubahan bentuk menjadi perahu ini dapat lebih cepat. Maka disebut dengan nama perahu palari.

Jenis-jenis kapal pinisi dan sejarah singkat modifikasinya

Dua buah tiang dan tujuh layar adalah filosofi puncak pembuatan dan keperkasaan kapal pinisi mengarungi tujuh samudera. Namun, siapa sangka ternyata kapal ini mempunyai jenis-jenis tersendiri. Dan bahkan menjadi sebuah kerancuan terhadap keasliannya. Berikut adalah jenis-jenisnya.

sejarah singkat kapal pinisi
Sejarah singkat kapal Pinisi Silolona

Type satu sebagai sejarah kapal pinisi asli

Tampilan type satu merupakan pinisi asli dengan dua buah tiang dan tujuh layar. Haluannya menggunakan anjong dan burtiannya menggunakan rembasang. Bentuknya masih sangat sangat klasik. Contohnya adalah Pinisi Nusantara, Monalisa, Ammana gappa, Silolona.

Lambok Pinisi (type kedua)

Masih menggunakan ciri utama pinisi. Hanya saja berbeda pada buritannya yangmenggunakan model panta’/lambok. Jenis kapal ini adalah perpaduan antara pinisi dan lambok. Tampilannya pun tidaklah seanggun dengan pinisi asli. Yang termasuk dalam jenis ini adalah Pinisi kembang matahari, citra pelangi, ombak putih, dan chatarina.

Type ketiga

Layar type ketiga ini sudah mengalami modifikasi dan tidak terlihat seperti pada umumnya layar pinisi. Untuk tiang layar masih terdiri dari dua buah dengan haluan. Masih memakai anjong dan dengan model panta’ pada buritan. Kapal type ketiga ini termasuk jenis baru karena telah mengalami modifikasi.

Type keempat sebagai sejarah singkat jenis baru kapal pinisi

Bentuknya sudah tidak termasuk dalam ciri utama pinisi. Tiang berjumlah satu dengan layarnya berjumlah hanya tiga sampai empat saja. Type ini tercipta pada tahun 1980-an. Pada tahun tersebut orang banyak mengenalnya dengan sebutan kapal PLM (Perahu Layar Motor). Akan tetapi pemesanan pinisi yang terus meningkat. Maka kapal type ini pun dinamai Pinisi.

Sejarah singkat modernisasi kapal pinisi

Seiring dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya permintaan. Maka kapal pun mengalami modernisasi untuk dapat bersaing di era teknologi. Sejarah singkat awal mula motorisasi kapal pinisi hanya untuk mengatasi permasalahan sulitnya untuk masuk dan keluar dari pelabuhan. Maka motorisasi dapat menjadi solusinya. Pada tahun 1972 lah pemerintah kemudian memberikan dukungan penuh terhadap industri kapal ini. Akhirnya melalui sebuah prakarsa Presiden Soeharto kapal mulai termotorisasi. Dan diharapkan untuk meningkatkan mobilitas perahu sesuai kebutuhan konsumen.

Hal menarik lainnya

Sebagai kapal yang penuh filosofi dan nilai sejarah. Maka uraian singkat lainnya terhadap hal – hal menarik lainnya pada kapal pinisi adalah sebagai berikut:

Panrita lopi

Seorang ahli perahu pinisi disebut sebagai panrita lopi. Asal panrita lopi dari desa Ara Kabupaten Bulukumba. Keahliannya mencakup teknologi dan magis. Kedua keahlian tersebut menjadi satu kesatuan yang sulit tertandingi oleh teknologi maju. Untuk mendapatkan keahlian ini pun memerlukan waktu yang tidak singkat. Maka seorang panrita lopi mendapatkan penghormatan tinggi dari masyarakat.

Sebagai produk kebudayaan

Nama pinisi yang sangat tersohor tidak terpisahkan dari sejarah yang memukau. Kekayaan intelektual yang dimiliki oleh panrita lopi menjadi nilai pengetahuan lokal yang tinggi. Karena untuk memperoleh pengetahuannya tidaklah singkat. Sinergisitas antara panrita lopi dan sawi (pekerja) membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Dan produk kebudayaan ini memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat setempat.

Sejarah singkat Desa Ara sebagai desa pembuat kapal pinisi

Produksi kapal pinisi dalam kehidupan masyarakat desa Ara mempunyai rangkaian sejarah yang tidak singkat. Sejarah kedatangan nenek moyang yang berdatangan dari tanah asalnya (Tiongkok). Sampai ke legenda tentang Sawerigading. Dimana sejarah singkat legenda atau mitos. Orang desa Ara yang piawai membuat kapal pinisi karena mereka mempelajari dan meniru perahu Sawerigading yang terdampar di desanya.

Pembuatan kapal pinisi

Proses pembuatan kapal pinisi memiliki nilai filosofi. Dimana pembuatan kapal harus memperhitungkan hari yang baik untuk memulai pencarian kayu sebagai bahan baku utama. Umumnya jatuh pada hari kelima dan dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka lima (naparilimai dalle’na) memiliki arti sebagai rezeki sudah berada di tangan. Pada angka tujuh (natujuangi dalle’na) yang berarti selalu mendapatkan rezeki.

Bukti sejarah kapal pinisi menyebrangi samudera

Bukti keperkasaan kapal pinisi telah mencatatkan sejarah yang sangat gemilang. Dimana pada tahun 1986 kapal mampu berlayar dari pelabuhan muara baru jakarta hingga ke Vancouver Kanada. Dalam rangka Vancouver Expo. Waktu tempuh kapal pun tidaklah singkat. Kapal ini berlayar selama 69 hari dengan jarak total sekitar 11.000 mil. Menyebrangi gelombang Samudera Pasifik sampai ke Benua Amerika.

About Adha Susanto

Menyelesaikan studi di Ilmu Kelautan dan Pramuka Universitas Diponegoro

View all posts by Adha Susanto →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *