Sejarah dan Misteri Patung Moai di Pulau Paskah

Last Updated on 29 August 2021 by Adha Susanto

Pulau Paskah atau Easter island merupakan sebuah daratan kecil yang berada di samudera Pasifik. Pulau ini bernilai sejarah. Karena untuk mengungkap misteri membutuhkan waktu yang panjang. Terutama misteri sejarah untuk mendirikan patung Moai dan keruntuhan peradaban penduduk pulau.

Perjuangan keras para ahli untuk mengungkap sejarah patung Moai menghasilkan banyak dugaan-dugaan. Dugaan yang muncul terfokuskan untuk memecahkan misteri patung Moai. Yakni bagaimana cara penduduk pulau Paskah mendirikan patung Moai dengan berat puluhan ton dan terletak di ahu? Serta penyebab hancurnya peradaban manusia pada pulau tersebut.

Sejarah penemuan pulau Paskah

Berdasarkan namanya pulau Paskah terlihat pada saat minggu paskah (5 April 1722). Nama tersebut tercetuskan oleh seorang pelaut dari Belanda yakni Jacob Roggeveen. Jacob Roggeveen menemukan pulau Paskah setelah menyebrangi Pasifik dari Chile selama 17 hari. Yang mana letak pulau ini jauh dari peradaban dan tak berpenghuni alias kosong.

Baca Juga Sejarah Maritim Indonesia

Lokasi dan geografi pulau

Pulau berbentuk segitiga seluas 170 kilometer persegi dengan ketinggian 500 meter dpl ini berada di samudera Pasifik. Daratan terdekat dari pulau adalah pantai Chile 3.700 km sebelah timur dan kepulauan Pitacairn Polinesia 2.700 km sebelah barat.

Setiap sudut pulau terdiri dari gunung api yang menjulang dari laut yang telah tertidur sepanjang sejarah peradaban manusia pulau Paskah. Gunung api yang telah meletus kini membentuk sudut-sudut pulau. Sudut tenggara pulau terdapat gunung berapi tertua Poike. Sudut barat daya terdapat gunung Rano Kau. Sedangkan sudut utara terdapat gunung Terevaka sebagai gunung api termuda.

Misteri dan sejarah patung Moai

Ketika mendengar nama atau berkunjung ke pulau Paskah pasti yang terpikirkan oleh semua orang adalah sejarah dan misteri patung Moai. Moai merupakan patung-patung batu raksasa berbentuk tubuh manusia laki-laki dengan telinga panjang tanpa kaki. Berdiri indah pada pelataran-pelataran batu (ahu). Tujuan pembuatan Moai oleh penduduk setempat adalah untuk menghormati para arwah leluhurnya.

Keberadaan Moai yang tersusun indah di ahu masih menjadi misteri dalam sejarah dan melahirkan dugaan-dugaan selama nyaris tiga abad. Para ahli arkeologi masih tidak dapat memahami bagaimana para penduduk prasejarah setempat mampu mendirikan Moai yang berbobot 10 sampai 270 ton.

Sebab penduduk prasejarah tentu tidak mempunyai peralatan modern seperti katrol, tambang kuat, alat berat, atau sarana lainnya. Kecuali kekuatan otot-otot manusia. Apapun metodenya yang digunakan oleh penduduk pastinya memerlukan kayu dan tambang dari pohon besar untuk mendirikan Moai. Padahal pulau Paskah dalah pulau tandus tanpa ada sebatang pohon dan semak setinggi lebih dari 3 meter.

Peradaban manusia

Teknologi radiokarbon modern AMS (Accelerator Mass Spectrometry) yang mempermudah kerja para ahli paleontologi dan arkeologi untuk mengungkap sejarah kependudukan manusia. Analisa radiokarbon diambil dari tumpukan sampah tulang penyu, lumba-lumba dan arang kayu. Hasil analisa menunjukkan keberadaan umat manusia pada pulau ini telah ada sejak 900 M.

Penduduk pulau merupakan orang-orang Polinesia yang berasal dari Asia. Hal itu berdasarkan bukti perkakas yang mereka gunakan seperti kikir kerang, beliung batu, dan lain-lain yang menyerupai perkakas khas Polinesia. Bukti ilmiah lain adalah rahang goyang (rocker jaw) mirip orang polinesia. Serta analisa molekuler DNA dengan adanya delesi sembilan pasang basa dan tiga substitusi basa yang mayoritas dimiliki semua orang Polinesia.

Orang Polinesia sangat merupakan seorang pelaut yang ulung. Mampu berlayar melintasi samudera menggunakan kano. Dan sebagai maestro seni navigasi menjadikan orang-orang Polinesia mampu menempati sepenggal tanah berbentuk segitiga di samudera Pasifik.

Runtuhnya peradaban pulau paskah

Para ahli memperikarakan populasi penduduk pulau berkisar dari angka rendah 6000 jiwa dan tertinggi 30.000 jiwa. Jumlah penduduk tersebut berdasarkan hitungan jumlah pondasi rumah dengan asumsi setiap rumah terdiri dari 5 sampai 15 orang.

Berdasarkan catatan sejarah berkurangnya populasi penduduk karena kekurangan makanan. Sumber makanan dari kegiatan agrikultur juga sulit dan membutuhkan usaha yang keras. Karena kondisi tanah yang berpori menyebabkan air hujan yang jatuh dengan rata-rata 127 cm per tahun merembes dengan cepat ke dalam tanah.  Sehingga air tawar untuk memperoleh air tawar sangat sulit dan berdampak buruk terhadap keberlanjutan kegiatan agrikultur.

Permasalahan lain yang terjadi pada pulau yakni penduduk setempat melakukan eskploitasi berlebihan seperti penggundulan hutan dan perburuan hewan liar. Sumber daya laut Lumba-lumba, ikan dan kerang juga sangat sulit. Hal ini karena pantai yang bertebing dan laut yang menukik curam ke dasar mempersulit penangkapan ikan.

Oleh sebab itu, ketersediaan makanan yang makin sedikit menyebabkan penduduk melakukan praktek kanibalisme dan memakan daging tikus yang telah ter introduksikan dari kapalkapal orang Eropa.  

Selain dari faktor kekurangan makanan. Berkurangnya penduduk pulau juga karena adanya wabah epidemi cacar api dan epidemi lainnya yang tidak terdokumentasikan. Wabah tersebut merupakan hasil introduksi oleh orang-orang Eropa yang mulai berdatangan sejak tahun 1770. Hingga menyebabkan kematian dan penurunan populasi penduduk pulau.

Lingkungan hidup pulau Paskah

Survei para ahli botani hingga pada abad ke-20 telah berhasil mengidentifikasi tumbuhan asli sebanyak 48 spesies. Hasil tersebut membuktikan bahwa sejarah pulau Paskah adalah pulau dengan hutan subtropis dan bukan tanah tandus. Tentunya hutan tersebut masih ada ketika umat manusia belum tiba dan di masa-masa awal tibanya umat manusia.

Sejumlah penjelajah gua yang menemukan fosil buah palem berhasil teridentifikasi oleh ahli palem. Hasil identifikasi menunjukkan palem sangat mirip dengan buah palem dari pohon palem terbesar di Chile. Dari pembuktian tersebut maka sejarah pulau Paskah dahulunya sebagai hutan yang banyak pohon palem. Penduduk memanfaatkan buah palem sebagai sumber makanan. Sedangkan pohonnya yang besar dan kokoh sebagai bahan membuat kano dan mendirikan Moai diatas ahu.

Sekarang pulau Paskah termasuk dalam salah satu situs warisan dunia UNESCO. Serta menjadi destinasi wisata sejarah terkenal di dunia yang letaknya terpencil.

Referensi

Diamond, J. 2019. COLLAPSE. KPG: Jakarta. Diterjemahkan oleh Demaring Tyas Wulandari Palar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *