Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Pangkalan Bun

Last Updated on 12 March 2024 by Adha Susanto

Estimated reading time: 5 minutes

Pada pagi hari Minggu, 03 Maret 2024, saat itu Matahari sudah lumayan cerah. Tetapi mata masih terasa mengantuk, karena kemarin malam tidak bisa tidur–efek minum kopi. Perjalanan ke Kota Pangkalan Bun bermula dari dapur, dan sesampainnya pada kota tujuan kami singgah di rumah makan Ayam Bakar Wong Solo.

Pagi itu saat mata masih sayup-sayup melihat Mamak masak opor tahu dan telur, saya pun memberikan tawaran sederhana. Tawaran saya berikan karena sudah mamak singgung sejak lama.

Sebab, mamak punya masalah kebersihan telinga. Untuk penanganannya membutuhkan bantuan dari tenaga ahli yang membidanginya.

Agar berjumpa dengan seorang ahli pada bidang tersebut kami harus berkunjung ke kota sebelah, yakni Pangkalan Bun. Umumnya perjalanan ke kota sebelah sering saya lalui selama dua jam menggunakan sepeda motor.

Jauh dan lamanya perjalanan tidak pernah menjadi masalah. Terlebih kota sebelah memang memberikan tawaran menarik bagi saya yang mayoritas menghabiskan sehari-harinya di kebun dan kolam ikan.

Ya, seperti dikasih waktu untuk keluar hutan lah. Hee

Karena itulah tawaran mengajak Mamak membersihkan telinga begitu mudah saya ucapkan.

Tidak butuh waktu lama, Mamak pun menyetujui tawaran saya.

Seusai sarapan, kami pun bergegas.

Baju ganti, sabun muka, hingga laptop kecil saya masukan ke dalam tas.

Membawa motor dengan waktu tempuh dua jam lebih sudah saya rindukan.

Perjalanan dua jam tidak membuat saya capek. Pasalnya, pada saat berkendara ke kota hormon endhorpin dalam tubuh saya sedang dalam jumlah tinggi.

Capeknya akan terasa saat saya sudah sampai rumah.

Baca Juga: Istana Kuning Kerajaan Kotawaringin

Sampai di Pangkalan Bun

Menyusuri jalan aspal dengan tanaman pakis yang sudah setinggi dada benar-benar menghalangi pemandangan pada waktu itu.

rumah makan ayam bakar wong solo
Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo

Meningkatkan kewaspadaan saat berkendara di poros jalan raya Kotawaringinlama ke Pangkalan Bun harus kita lakukan. Terlebih, jalan yang sudah berlubang memperburuk keadaan.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih. Akhirnya perjalanan ke Kota Pangkalan Bun tiba dengan selamat.

Tetapi, tujuan utama kami tidak tersampaikan. Klinik kesehatan telinga, hidung, dan tenggorokan yang berada di pusat kota tidak membuka pelayanan di hari Minggu.

Perasaan kecewa tidak terbendung, tetapi mustahil langsung putar balik atau pulang ke rumah.

Cuaca cerah pada sekitar pukul 11-an kami manfaatkan untuk mencari oleh-oleh.

Secara umum makanan khas tidak ada yang berbeda dengan di Sukamara. Hanya saja di kota terdapat roti-roti dengan nama yang tidak asing atau hampir kita jumpai di kota-kota lainnya. Oleh karena Sukamara bukanlah sebuah kota, membawa jajanan khas kota jadi daftar wajib.

Jajanan kota untuk dibawa pulang ke rumah jatuh pada “Brownies Amanda.” Brownies satu ini sudah jadi langganan setiap kali kami berkunjung ke Kota Pangkalan Bun. Pasalnya, cita rasa dari kue brownies selalu sukses memuaskan mulut dan hati kami.

Nah, tempat berikutnya yang sudah kami rencanakan harus digagalkan. Pasalnya, pada siang itu destinasi tempat kedua penuh dengan pelanggan setianya. Malas banget untuk mengantri jadi alasan utamanya kami menggalkan kunjungan ke tempat kedua.

Semangat 47 ialah rumah makan ternama di Kota Pangkalan Bun yang harus kami gagalkan pada siang itu. Rumah makan kenamaan satu ini memang tidak pernah sepi pelanggan. Bahkan hampir semua warga Sukamara yang berkunjung ke Kota Pangkalan Bun selalu singgah.

Menu dan cita rasa masakan rumah makan Semangat 47 memang pas banget di kebanyak lidah orang Kalimantan. Gurih dan pedas nampolnya benar-benar mengenang di lidah.

Sebagai gantinya, jatuhlah pilihan tempat istirahat siang itu pada rumah makan Ayam Bakar Wong Solo.

Ayam Bakar Wong Solo di Kota Pangkalan Bun

Setidaknya ada dua alasan yang membuat kami menjatuhkan pilihan istirahat dan makan siang di Ayam Bakar Wong Solo.

Tempatnya luas dan bersih

Menyediakan tempat yang nyaman bagi pelanggannya menjadi prioritas setelah menu masakan dengan cita rasa umami.

Pelanggan dari luar kota akan lebih merasa lega jika bertemu rumah makan seperti Ayam Bakar Wong Solo. Pasalnya, di rumah makan ini tersedia dua tempat, yaitu lesehan dan kursi.

Lesehan kami pilih karena kami butuh menyelonjorkan kaki setelah dua jam berkendara.

Rasanya lebih rileks seketika kaki bisa selonjoran dan badan bersandar pada dinding rumah makan.

Oh ya, fasilitas lainnya yang ada di rumah makan Ayam Bakar Wong Solo Pangkalan Bun adalah toilet dan musala.

Toilet di rumah makan ini nyaman banget, karena bersih dan rapi. Sedikit informasi untuk Anda yang tidak bisa menggunakan toilet duduk ada pilihan toilet jongkoknya, kok. Pokoknya dibikin senyamannya kita saja.

Berada di satu bangunan dengan toilet ada musala. Jadi, selain menjadi tempat nyantai untuk mengisi perut yang kosong.

Rumah makan satu ini pun menjadi pilihan yang tepat bagi Anda yang datang dari kota sebelah.

Ketersediaan musala di rumah makan memudahkan Anda yang beragama muslim untuk menunaikan kewajibannya.

Menu yang variatif

Alasan kedua kami memilih rumah makan ini karena variatifnya menu masakan.

ayam bakar wong solo pangkalan bun
Ayam Bakar Wong Solo

Di sini kita bisa memilih beragam menu masakan yang bisa Anda sesuaikan dengan lidah. Untuk harganya juga variatif, ya.

Sedangkan cita rasa dari masakan rumah makan bisa di simak pada uraian selanjutnya di bawah ini, ya!

Cita rasa masakan

Sesuai dengan nama rumah makannya “Ayam Bakar Wong Solo” yang kali ini bisa kita jumpai di Kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Pada dasarnya rumah makan ini berasal dari salah satu daerah yang berada di Jawa Tengah. Jadi, tidak heran jika cita rasa masakan Jawa lebih dominan ketika singgah di mulut.

Dominan sebagai masakan dengan rasa manis akan menguasai lidah saat pertama kali ke tempat ini.

Ini pula yang deteksi pada menu ayam bakar dan sambal pete yang kami pesan.

Memang pada kesempatan kali ini, kami menikmati menu sambal pada saat cabai berada di harga Rp100 ribu/kg.

Oleh karena itu, sambal pete dominan dengan rasa manis dan kaya akan minyak. Terlebih, sambal yang kami pesan adalah sambal goreng.

Nah, untuk harga memang tergantung pada pilihan menu makanan dan minuman yang kita pesan.

Sebab, setelah selesai makan dan berjumpa kasir, saya pun juga kaget dengan harganya.

Baca Juga: 2 Tempat Pacaran di Pati Kota: Murah & Instagramable