Air yang dibuang kapal: air ballast

Last Updated on 6 January 2021 by

Air yang di buang dari kapal disebut air balas. Air balas sangat dibutuhkan dalam dunia pelayaran (kapal) untuk menjaga keseimbangan. Proses pengisian air balas disebut ballasting dan pembuangan disebut deballasting. Pelabuhan menjadi tempat pengisian dan bahkan pembuangan. Namun, pembuangan juga dapat dilakukan di perairan lepas.

Kegiatan di kapal berupa ballasting dan deballasting merupakan sebuah kegiatan yang tampak seperti biasa saja. Namun, kegiatan tersebut sangat mempengaruhi kondisi lingkungan khususnya ekosistem laut. Ekosistem laut yang terdampak dari kegiatan tersebut dapat mengancam kelangsungan sumberdaya hayati di dalamnya.

Apa dampak kegiatan ballasting dan deballasting?

Informasi yang dirilis International Maritime Organization (IMO) bahwa kegiatan pelayaran selama satu tahun diketahui menggunakan 10 milyar ton air balas. Air balas tersebut diketahui terdapat sekitar ribuan bahkan jutaan mikroorganisme. Organisme laut sebanyak 7000 spesies diperkirakan setiap per jamnya berpindah, dan setiap 9 minggu terdapat satu spesies pendatang (invasive).

Kapal yang melakukan kegiatan deballasting berpeluang melepas spesies invasive, zooplankton, fitoplankton, mikroorganisme, patogen, ke perairan payau / laut. Kemampuan adaptasi di lingkungan baru yang terbuka dapat mempengaruhi dan menyebabkan perubahan iklim mikro perairan laut hingga payau / muara (Lakshmi et al., 2020).

Peristiwa invasive terjadi karena organisme baru masuk ke ekologi perairan yang baru yang sebelumnya tidak ditemukan di ekologi perairan tersebut. Organisme invasive dapat mengancam ekologi perairan lain karena menjadi kompetitor, menyebarkan dan menyebabkan penyakit.

Mikroorganisme dari air balas yang diketahui dapat menyebabkan penyakit adalah Vibrio sp (Lakshmi et al., 2020). Penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut dikenal dengan vibriosis yang terjadi di udang.

Bagaimana hukum pengelolaan air balas di kapal?

Dampak negatif terhadap lingkungan yang disebabkan oleh air balas menjadi perhatian serius. Perhatian serius terhadap ekologi laut kemudian direalisasikan melalui konvensi manajemen air balas oleh IMO. Isi konvensi tersebut menetapkan bahwa organisme invasive yang terdapat pada air balas dan sedimen kapal berbahaya terhadap lingkungan, manusia. Merusak sumberdaya hayati atau mengganggu pemanfaatan terhadap suatu area jika dilepaskan di laut.

Konvensi pengelolaan terhadap air balas dan sedimen kapal pada tahun 2004 merupakan ketetapan yang dikeluarkan oleh IMO. Ketetapan internasional dalam pengelolaan air balas kemudian diratifikasi oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2015. Kebijakan dalam pengelolaan air balas dikeluarkan oleh pemerintah melalui Peraturan Presiden No 132 tahun 2015. Artinya hingga saat ini peraturan tersebut telah digunakan selama lima tahun.

Baca Juga Peraturan Perikanan di Kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia

Peraturan yang dikeluarkan tersebut mewajibkan kapal harus dilengkapi dengan teknologi pengelolaan atau water treatment. Aturan pengelolaan air balas terdapat standar yang harus dipenuhi, yaitu standar kinerja D1 dan D2. Untuk standar kinerja dapat diakses pada tautan artikel (Abdillah dan Basuki, 2020).

Teknologi pengelolaan air balas

Pengelolaan air balas di kapal dilakukan dengan menggunakan teknologi water treatment. Teknologi yang digunakan dibedakan dalam metode dan pengaplikasiannya, skalabilitas, kebutuhan daya, keselamatan, dampak pada kapal, dan biaya. Perlakuan air balas dilakukan menggunakan tiga metode, yaitu secara mekanis, fisik dan kimiawi (Arif et al., 2016).

Metode secara fisik dilakukan dengan menerapkan teknologi radiasi sinar UV dan deoxidation. Secara kimiawi menggunakan ozonisasi klorinasi dan elektrolisis. Secara mekanis dengan filtrasi dan hydroclonic separation.

Aplikasi teknologi pengelolaan air balas kapal umumnya beroperasi dengan menggabungkan dua metode. Metode pertama berperan secara mekanis (filtrasi) terhadap ukuran organisme dengan ukuran lebih dari 50 µm. Metode kedua berfungsi untuk perlakuan terhadap organisme lebih kecil (mikroorganisme) dan sebagai disinfektan. Penggunaan disinfektan dapat menggunakan teknologi kimiawi dan fisik.

About Adha Susanto

Menyelesaikan studi di Ilmu Kelautan dan Pramuka Universitas Diponegoro

View all posts by Adha Susanto →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *